Mari memilih pada
Pemilu tahun 2014
Tahun
2014 akan disibukan oleh pesta akbar demokrasi 5 tahunan, karena pada tahun
2014 akan terjadi pemilu legislatif baik itu tingkat DPRD maupun DPR dan juga
pemilu presiden. Berbicara mengenai pemilahan umum maka kita berbicara partai politik. Partai
politik adalah suatu kendaraan untuk menduduki kursi-kursi yang ada di
legislatif dan juga eksekutif.
Melihat
atau menilik peta kekuatan pemilu pada tahun 2014 maka kita akan dihadapkan
pada sosok-sosok para legislator yang mengumbar janji-janji manisnya untuk
mempengaruhi para pemilih untuk memilih dia dengan berbagai cara dan upaya
misalkan membagikan sembako, membagikan uang, mengkampanyekan pendidikan
gratis, mengkampanyekan kesehatan gratis dan lain-lainya. Namun ketika para
legislator itu duduk di senayan mereka lupa akan janjinya kepada rakyatnya dan
masyarakat menjadi apatis dan pesimis terhadap partai politik.
Partisipasi
masyarakat dalam pemilu dari tahun ke tahun angkanya semakin menurun. Sumber
data pada tahun 1997 angka partisipasi pemilu yaitu sebesar 96,6% pada era orde
baru, lalu angka itu turun pada tahun 1999 menjadi 92,7% pada era-reformasi.
Pada tahun 2004 yang dimana ini menjadi awal pemilihan langsung legislatif dan
presiden dimana angka pemilu untuk legislatif yaitu 84,1% sementara untuk
pilpres angkanya 78,2% dan yang terakhir pemilu 2009 pemilu legislatif angkanya
70,99% dan pilpres angkanya 71,7%, dari data di atas dapat disimpulkan bahwa
tren golput dari tahun ke tahun angkanya semakin signifikan dan itu sangat
menghawatirkan bagi rakyat Indonesia, karena bisa saja pada tahun 2014 angka
golput semakin tinggi.
Golput
bisa disebabkan oleh beberapa faktor-faktor berikut ini:
1) Tidak
ada calon yang sesuai dengan pilihan
2) Kasus
korupsi yang terus menimpa anggota eksekutif, legislatif, dan yudikatif
sehingga para pemilih menjadi apatis
3) Kondisi
ekonomi yang tidak kunjungi membaik
4) Situasi
sosial politik yang tidak menentu
5) Manipulasi
pemilihan suara
Kelima faktor
ini bisa menyebabkan angka golput semakin tinggi. Untuk mengurangi angka golput
yang semakin tinggi maka partai politik harus memberikan pendidikan politik
terhadap rakyat agar mereka diberi pemahaman tentang partisipasi dalam pemilu,
cara yang lain adalah para parpol harus menyiapkan SDM-SDM yang luar biasa
dalam hal visi dan misinya ke depan sehingga para rakyat disuguhi oleh sosok-sosok
legislator yang kompeten dan mempunyai kredibilitas tinggi yang mampu menangkap
kebutuhan rakyat sehingga rakyat-pun
tidak salah memilih para legislatornya atau istilahnya tidak membeli kucing
dalam karung.
Kesimpulan dari
semua tulisan ini adalah mari kita memilih para legislator dan presiden pada
pemilu pada tahun 2014 karena 5 tahun kedepan nasib bangsa Indonesia akan
ditentukan pada pemilu 2014. KATAKAN TIDAK PADA GOLPUT!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar